Followers

Friday, May 16, 2014

Uji Kompetensi

Hai, selamat sejahtera bagi teman-teman sekalian, hhhhuuuufffftttt........ hembusan nafas panjang ini cukup buat mewakili perasaan saya malam ini. :) 
Ngomong-ngomong tentang hembusan nafas, saya mau menjelaskan apa yang terjadi saat ini.

Waktu berjalan dengan sangat cepat, rasanya baru kemarin saya masuk kuliah, tak terasa saat ini saya sudah ada di dipenghujung studi saya, mempersiapkan diri unutk menyandang gelar sebagai seorang Perawat (cieeecieee) ahahaha. Ngomong-ngomong masalah menyandang gelar lagi ni teman-teman, sebelum mendapatkan gelar tersebut ada beberapa hal atau cobaan lagi yang harus saya lalui, salah satunya adalah ujian kompetensi, (hadeeeh #tepokjidat).

     Tidak bermaksud untuk mengeluh, hanya sebagai kiasan bahwa saya masih harus berjuang, mengerahkan segenap tenaga dan kemampuan yang saya miliki. untuk bisa memegang sertifikat LULUS dari bangku perkuliahan.
Lanjut ke Uji Kompetensi, sebenarnya ini hampir sama seperti ujian UN ketika SMA dulu ya, hanya saja yang membedakan nya adalah saat ini saya belum cukup siap dengan ujian ini, :D. Sebelum berbicara lebih jauh, sedikit saya akan menjelaskan beberapa hal tentang Uji Kompetensi.

Jadi, ceritanya begini :
    Tiga tahun lalu Menkes RI mengeluarkan Permenkes/1796/menkes/per/VIII/2011 mengenai registrasi tenaga kesehatan, pengganti Kemenkes nomor 161 tahun 2010. Dimana setiap tenaga kesehatan dalam menjalankan tugas keprofesiannya wajib memiliki STR. STR tersebut bagi lulusan tahun 2012 keatas dan didapatkan melalui Uji Kompetensi. Sementara tahun 2012 ke bawah dilakukan STR pemutihan tanpa mengikuti Uji Kompetensi. Uji kompetensi dilaksanakan oleh setiap institusi yang telah terakreditasi, menjanjikan bahwa tenaga kesehatan pada entry level registered memiliki kompetensi yang dipersyaratkan untuk dapat menjalankan praktik secara aman dan efektif serta sebagai crosscheck terhadap mutu lulusan suatu institusi pendidikan keperawatan.

Lalu bagaimana pelaksanaannya ?
      Pelaksanaan Uji Kompetensi ini dilakukan apabila suatu institusi yang telah terakreditasi telah menyatakan kesiapan kemudian melapor ke Majelis Tenaga Kesehatan Indonesia (MTKI) yang dibantu oleh Majelis Tenaga Keperawatan Provinsi (MTKP), lalu MTKI menyiapkan soal ujian dan mengadakan pengawasan terhadap penyelenggaraan Uji Kompetensi tersebut. 

    Seseorang peserta didik baru dinyatakan lulus dan diangkat sumpah apabila peserta telah menyelesaikan program pendidikan di institusi keperawatan dengan memperoleh sertifikat Uji Kompetensi yang dikeluarkan oleh MTKI. Jadi apabila peserta didik tersebut Tidak Lulus Uji Kompetensi berarti masih dalam tanggung jawab institusi dalam melakukan pembinaan sampai merekal Lulus Uji Kompetensi. 
Nah ini masalahnya, untuk mendapatkan sertifikat kelulusan itu tidak mudah, para perawat harus mempersiapkannya dengan matang, memperhitungkan segala aspek yang ada digodok untuk menghasilkan sebuah solusi terbaik. :D. Disamping itu yang terpenting adalah do'a. karena tanpa do'a kita bukan apa-apa, hanya dengan ridhoNya lah kita bisa berhasil didunia ini.

Jadi, Kesimpulannya adalah Uji Kompetensi memberikan harapan baru bagi dunia perawat sebagai momentum peningkatan kualitas pendidikan keperawatan di Indonesia sekaligus menjadi tantangan tersendiri buat kita calon-calon abdi masyarakat untuk membuktikan diri bahwa bisa dan mampu memenuhi syarat untuk menjadi seorang perawat profesional. 

Semangat buat teman-teman yang sedang berjuang dengan KTI dan Uji Kompetensinya.
kerjakan atau lakukan apa yang bisa kita lakukan, sisanya terserah Tuhan. Yakinlah bahwa Tuhan sudah merencanakan semua yang terbaik kepada kita masing-masing :)

Wednesday, February 19, 2014

Try to Succes

Hari ini aku akan berdamai dengan masa laluku.

Aku akan melupakan sakitnya, dan mengambil pelajarannya.

Hari ini aku akan menjadi pribadi yang lebih bijak dan tak mengulangi kesalahan yang sama, agar tak terbenam dalam tumpukan kesalahanku.

Semoga Tuhan merahmati kesungguhanku untuk menjadi pribadi yang elegan karena masa laluku, dan bermasa depan cemerlang karena kebaikan yang kulakukan hari ini.

Aamiin

Friday, February 7, 2014

Tiga Watak Kerja Profesional

       Untuk menuju hidup seimbang manusia di tuntut untuk bekerja, dan dalam bekerja biasanya tiap2 orang terdapat perbedaan, maka dari itu untuk mendapatkan sesuatu yang kita harapkan (impian), maka praktek kerja kita harus berpola bekerja keras dan bekerja cerdas = >>> kerja profesional.
         Ternyata seseorang yang bekerja secara profesional memiliki watak khusus yang harus kita ikuti. Dalam melakukan tugas profesi, para profesional harus bertindak objektif, artinya bebas dari rasa malu, sentimen, benci, sikap malas dan enggan bertindak, intinya harus percaya diri.

Tiga Watak Kerja Profesional

  • Kerja seorang profesional - itu beritikad untuk merealisasikan kebajikan demi tegaknya kehormatan profesi yang digeluti, dan oleh karenanya tidak terlalu mementingkan atau mengharapkan imbalan upah materiil.
     
  • Kerja seorang profesional  - itu harus dilandasi oleh kemahiran teknis yang berkualitas tinggi yang dicapai melalui proses pendidikan atau pelatihan yang panjang, ekslusif dan berat.
  • Kerja seorang profesional - diukur dengan kualitas teknis dan kualitas moral - harus menundukkan diri pada sebuah mekanisme kontrol berupa kode etik yang dikembangkan dan disepakati bersama didalam sebuah organisasi profesi .
     
       Dengan demikian seorang profesional, jelas harus memiliki profesi tertentu yang di peroleh melalui sebuah sebuah proses pendidikan maupun pelatihan yang khusus, dan disamping itu pula ada unsur semangan pengabdian (panggilan profesi) dalam melaksanakan suatu kegiatan kerja. Hal ini perlu ditekankan benar untuk membedakannya dengan kerja biasa (occupation) yang semata bertujuan untuk mencari nafkah atau kekayaan materiil duniawi.

Mudah-mudahan bermanfaat dan bisa jadi bahan ukur terhadap hal yang kita kerjakan selama ini.

Saturday, January 18, 2014

Sepenggal kisah mengharukan dari BJ Habibie....!!!

Sepenggal kisah mengharukan dari BJ Habibie....!!!
Pada usianya 74 tahun, mantan Presiden RI, BJ Habibie secara mendadak mengunjungi fasilitas Garuda Indonesia didampingi oleh putra sulung, Ilham Habibie dan keponakannya, Adri Subono, juragan Java Musikindo.

Kunjungan beliau dan rombongan disambut oleh President (CEO), Bapak Emirsyah Satar disertai seluruh Direksi dan para VP serta Area Manager yang sedang berada di Jakarta.

Dalam kunjungan ini, diputar video mengenai Garuda Indonesia Experience dan presentasi perjalanan kinerja Garuda Indonesia sejak tahun 2005 hingga tahun 2015 menuju Quantum Leap.

Sebagai “balasan” pak Habibie memutarkan video tentang penerbangan perdana N250 di landasan bandara Husein Sastranegara, IPTN Bandung tahun 1995 (tujuh belas tahun yang telah berlalu!).

Entah, apa pasalnya dengan memutar video ini?
Video N250 bernama Gatotkaca terlihat roll-out kemudian tinggal landas secara mulus di-escort oleh satu pesawat latih dan sebuah pesawat N235. Pesawat N250 jenis Turboprop dan teknologi glass cockpit dengan kapasitas 50 penumpang terus mengudara di angkasa Bandung.

Dalam video tersebut, tampak hadirin yang menyaksikan di pelataran parkir, antara lain Presiden RI Bapak Soeharto dan ibu, Wapres RI bapak Soedarmono, para Menteri dan para pejabat teras Indonesia serta para teknisi IPTN.

Semua bertepuk tangan dan mengumbar senyum kebanggaan atas keberhasilan kinerja N250. Bapak Presiden kemudian berbincang melalui radio komunikasi dengan pilot N250 yang di udara, terlihat pak Habibie mencoba mendekatkan telinganya di headset yang dipergunakan oleh Presiden Soeharto karena ingin ikut mendengar dengan pilot N250.

N250 sang Gatotkaca kembali pangkalan setelah melakukan pendaratan mulus di landasan………………

Di hadapan kami, BJ Habibie yang berusia 74 tahun menyampaikan cerita yang lebih kurang sebagai berikut:

“Dik, anda tahu…………..saya ini lulus SMA tahun 1954!” beliau membuka pembicaraan dengan gayanya yang khas penuh semangat dan memanggil semua hadirin dengan kata “Dik” kemudian secara lancar beliau melanjutkan……………..

“Presiden Soekarno, Bapak Proklamator RI, orator paling unggul, …….itu sebenarnya memiliki visi yang luar biasa cemerlang! Ia adalah Penyambung Lidah Rakyat! Ia tahu persis sebagai Insinyur………Indonesia dengan geografis ribuan pulau, memerlukan penguasaan Teknologi yang berwawasan nasional yakni Teknologi Maritim dan Teknologi Dirgantara.

Kala itu, tak ada ITB dan tak ada UI. Para pelajar SMA unggulan berbondong-bondong disekolahkan oleh Presiden Soekarno ke luar negeri untuk menimba ilmu teknologi Maritim dan teknologi dirgantara.

Saya adalah rombongan kedua diantara ratusan pelajar SMA yang secara khusus dikirim ke berbagai negara. Pendidikan kami di luar negeri itu bukan pendidikan kursus kilat tapi sekolah bertahun-tahun sambil bekerja praktek. Sejak awal saya hanya tertarik dengan ‘how to build commercial aircraft’ bagi Indonesia.

Jadi sebenarnya Pak Soeharto, Presiden RI kedua hanya melanjutkan saja program itu, beliau juga bukan pencetus ide penerapan ‘teknologi’ berwawasan nasional di Indonesia. Lantas kita bangun perusahaan-perusahaan strategis, ada PT PAL dan salah satunya adalah IPTN”.

Sekarang Dik,…………Anda semua lihat sendiri…………..N250 itu bukan pesawat asal-asalan dibikin! Pesawat itu sudah terbang tanpa mengalami ‘Dutch Roll’ (istilah penerbangan untuk pesawat yang ‘oleng’) berlebihan, teknologi pesawat itu sangat canggih dan dipersiapkan untuk 30 tahun kedepan, diperlukan waktu 5 tahun untuk melengkapi desain awal, satu-satunya pesawat turboprop di dunia yang mempergunakan teknologi ‘Fly by Wire’ bahkan sampai hari ini.

Rakyat dan negara kita ini membutuhkan itu! Pesawat itu sudah terbang 900 jam (saya lupa persisnya 900 atau 1900 jam) dan selangkah lagi masuk program sertifikasi FAA. IPTN membangun khusus pabrik pesawat N250 di Amerika dan Eropa untuk pasar negara-negara itu.Namun, orang Indonesia selalu saja gemar bersikap sinis dan mengejek diri sendiri ‘apa mungkin orang Indonesia bikin pesawat terbang?

Tiba-tiba, Presiden memutuskan agar IPTN ditutup dan begitu pula dengan industri strategis lainnya.

“Dik tahu…………….di dunia ini hanya 3 negara yang menutup industri strategisnya, satu Jerman karena trauma dengan Nazi, lalu Cina (?) dan Indonesia………….”

“Sekarang, semua tenaga ahli teknologi Indonesia terpaksa diusir dari negeri sendiri dan mereka bertebaran di berbagai negara, khususnya pabrik pesawat di Bazil, Canada, Amerika dan Eropa…………….”

“Hati siapa yang tidak sakit menyaksikan itu semua…………………?”

“Saya bilang ke Presiden, kasih saya uang 500 juta Dollar dan N250 akan menjadi pesawat yang terhebat yang mengalahkan ATR, Bombardier, Dornier, Embraer dll dan kita tak perlu tergantung dengan negara manapun”.

“Tapi keputusan telah diambil dan para karyawan IPTN yang berjumlah 16 ribu harus mengais rejeki di negeri orang dan gilanya lagi kita yang beli pesawat negara mereka!

Pak Habibie menghela nafas…………………..

***
Ini pandangan saya mengenai cerita pak Habibie di atas;

Sekitar tahun 1995, saya ditugaskan oleh Manager Operasi (JKTOF) kala itu, Capt. Susatyawanto untuk masuk sebagai salah satu anggota tim Airline Working Group di IPTN dalam kaitan produksi pesawat jet sekelas B737 yang dikenal sebagai N2130 (kapasitas 130 penumpang).

Saya bersyukur, akhirnya ditunjuk sebagai Co-Chairman Preliminary Flight Deck Design N2130 yang langsung bekerja dibawah kepala proyek N2130 adalah Ilham Habibie. Kala itu N250 sedang uji coba terus-menerus oleh penerbang test pilot (almarhum) Erwin.

Saya turut mendesain rancang-bangun kokpit N2130 yang serba canggih berdasarkan pengetahuan teknis saat menerbangkan McDonnel Douglas MD11. Kokpit N2130 akan menjadi mirip MD11 dan merupakan kokpit pesawat pertama di dunia yang mempergunakan LCD pada panel instrumen (bukan CRT sebagaimana kita lihat sekarang yang ada di pesawat B737NG).

Sebagian besar fungsi tampilan layar di kokpit juga mempergunakan “track ball atau touch pad” sebagaimana kita lihat di laptop.

N2130 juga merupakan pesawat jet single aisle dengan head room yang sangat besar yang memungkinkan penumpang memasuki tempat duduk tanpa perlu membungkukkan badan. Selain high speed sub-sonic, N2130 juga sangat efisien bahan bakar karena mempergunakan winglet, jauh sebelum winglet dipergunakan di beberapa pesawat generasi masa kini.

Saya juga pernah menguji coba simulator N250 yang masih prototipe pertama……………..

N2130 narrow body jet engine dan N250 twin turboprop, keduanya sangat handal dan canggih kala itu………bahkan hingga kini.

Lamunan saya ini, berkecamuk di dalam kepala manakala pak Habibie bercerita soal N250, saya memiliki kekecewaan yang yang sama dengan beliau, seandainya N2130 benar-benar lahir………….kita tak perlu susah-susah membeli B737 atau Airbus 320.

***

Pak Habibie melanjutkan pembicaraannya………………..

“Hal yang sama terjadi pada prototipe pesawat jet twin engines narrow body, itu saya tunjuk Ilham sebagai Kepala Proyek N2130. Ia bukan karena anak Habibie, tapi Ilham ini memang sekolah khusus mengenai manufakturing pesawat terbang, kalau saya sebenarnya hanya ahli dalam bidang metalurgi pesawat terbang. Kalau saja N2130 diteruskan, kita semua tak perlu tergantung dari Boeing dan Airbus untuk membangun jembatan udara di Indonesia”.

“Dik, dalam industri apapun kuncinya itu hanya satu QCD,

Q itu Quality, Dik, anda harus buat segala sesuatunya berkualitas tinggi dan konsisten? C itu Cost, Dik, tekan harga serendah mungkin agar mampu bersaing dengan produsen sejenis? D itu Delivery, biasakan semua produksi dan outcome berkualitas tinggi dengan biaya paling efisien dan disampaikan tepat waktu!Itu saja!”

Pak Habibie melanjutkan penjelasan tentang QCD sbb:

“Kalau saya upamakan, Q itu nilainya 1, C nilainya juga 1 lantas D nilainya 1 pula, jika dijumlah maka menjadi 3. Tapi cara kerja QCD tidak begitu Dik………….organisasi itu bekerja saling sinergi sehingga yang namanya QCD itu bisa menjadi 300 atau 3000 atau bahkan 30.000 sangat tergantung bagaimana anda semua mengerjakannya, bekerjanya harus pakai hati Dik………………”

Tiba-tiba, pak Habibie seperti merenung sejenak mengingat-ingat sesuatu ………………………

“Dik, ……….saya ini memulai segala sesuatunya dari bawah, sampai saya ditunjuk menjadi Wakil Dirut perusahaan terkemuka di Jerman dan akhirnya menjadi Presiden RI, itu semua bukan kejadian tiba-tiba. Selama 48 tahun saya tidak pernah dipisahkan dengan Ainun, ………..ibu Ainun istri saya. Ia ikuti kemana saja saya pergi dengan penuh kasih sayang dan rasa sabar.

Dik, kalian barangkali sudah biasa hidup terpisah dengan istri, you pergi dinas dan istri di rumah, tapi tidak dengan saya. Gini ya…………saya mau kasih informasi……….. Saya ini baru tahu bahwa ibu Ainun mengidap kanker hanya 3 hari sebelumnya, tak pernah ada tanda-tanda dan tak pernah ada keluhan keluar dari ibu……………………”

Pak Habibie menghela nafas panjang dan tampak sekali ia sangat emosional serta mengalami luka hati yang mendalam…………… seisi ruangan hening dan turut serta larut dalam emosi kepedihan pak Habibie, 

Dengan suara bergetar dan setengah terisak pak Habibie melanjutkan……………………

“Dik, kalian tau……………..2 minggu setelah ditinggalkan ibu…………suatu hari, saya pakai piyama tanpa alas kaki dan berjalan mondar-mandir di ruang keluarga sendirian sambil memanggil-manggil nama ibu……… Ainun……… Ainun …………….. Ainun …………..saya mencari ibu di semua sudut rumah.

Para dokter yang melihat perkembangan saya sepeninggal ibu berpendapat ‘Habibie bisa mati dalam waktu 3 bulan jika terus begini…………..’ mereka bilang ‘Kita (para dokter) harus tolong Habibie’.

Para Dokter dari Jerman dan Indonesia berkumpul lalu saya diberinya 3 pilihan;

1. Pertama, saya harus dirawat, diberi obat khusus sampai saya dapat mandiri meneruskan hidup. Artinya saya ini gila dan harus dirawat di Rumah Sakit Jiwa!

2. Opsi kedua, para dokter akan mengunjungi saya di rumah, saya harus berkonsultasi terus-menerus dengan mereka dan saya harus mengkonsumsi obat khusus. Sama saja, artinya saya sudah gila dan harus diawasi terus……………

3. Opsi ketiga, saya disuruh mereka untuk menuliskan apa saja mengenai Ainun, anggaplah saya bercerita dengan Ainun seolah ibu masih hidup.

Saya pilih opsi yang ketiga……………………….”

Tiba-tiba, pak Habibie seperti teringat sesuatu (kita yang biasa mendengarkan beliau juga pasti maklum bahwa gaya bicara pak Habibie seperti meloncat kesana-kemari dan kadang terputus karena proses berpikir beliau sepertinya lebih cepat dibandingkan kecepatan berbicara dalam menyampaikan sesuatu) …………………. ia melanjutkan pembicaraannya;

“Dik, hari ini persis 600 hari saya ditinggal Ainun…………..dan hari ini persis 597 hari Garuda Indonesia menjemput dan memulangkan ibu Ainun dari Jerman ke tanah air Indonesia…….

Saya tidak mau menyampaikan ucapan terima kasih melalui surat…………. saya menunggu hari baik, berminggu-minggu dan berbulan-bulan untuk mencari momen yang tepat guna menyampaikan isi hati saya. Hari ini didampingi anak saya Ilham dan keponakan saya, Adri maka saya, Habibie atas nama seluruh keluarga besar Habibie mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya, kalian, Garuda Indonesia telah mengirimkan sebuah Boeing B747-400 untuk menjemput kami di Jerman dan memulangkan ibu Ainun ke tanah air bahkan memakamkannya di Taman Makam Pahlawan. Sungguh suatu kehormatan besar bagi kami sekeluarga. Sekali lagi, saya mengucapkan terima kasih atas bantuan Garuda Indonesia”

Seluruh hadirin terhenyak dan saya tak kuasa lagi membendung air mata…………………………

Setelah jeda beberapa waktu, pak Habibie melanjutkan pembicaraannya;

“Dik, sebegitu banyak ungkapan isi hati kepada Ainun, lalu beberapa kerabat menyarankan agar semua tulisan saya dibukukan saja, dan saya menyetujui…………………

Buku itu sebenarnya bercerita tentang jalinan kasih antara dua anak manusia. Tak ada unsur kesukuan, agama, atau ras tertentu. Isi buku ini sangat universal, dengan muatan budaya nasional Indonesia. Sekarang buku ini atas permintaan banyak orang telah diterjemahkan ke beberapa bahasa, antara lain Inggris, Arab, Jepang….. (saya lupa persisnya, namun pak Habibie menyebut 4 atau 5 bahasa asing).

Sayangnya buku ini hanya dijual di satu toko buku (pak Habibie menyebut nama satu toko buku besar), sudah dicetak 75.000 eksemplar dan langsung habis. Banyak orang yang ingin membaca buku ini tapi tak tahu dimana belinya. Beberapa orang di daerah di luar kota besar di Indonesia juga mengeluhkan dimana bisa beli buku ini di kota mereka.

Dik, asal you tahu…………semua uang hasil penjualan buku ini tak satu rupiahpun untuk memperkaya Habibie atau keluarga Habibie. Semua uang hasil penjualan buku ini dimasukkan ke rekening Yayasan yang dibentuk oleh saya dan ibu Ainun untuk menyantuni orang cacat, salah satunya adalah para penyandang tuna netra. Kasihan mereka ini sesungguhnya bisa bekerja dengan nyaman jika bisa melihat.

Saya berikan diskon 30% bagi pembeli buku yang jumlah besar bahkan saya tambahkan lagi diskon 10% bagi mereka karena saya tahu, mereka membeli banyak buku pasti untuk dijual kembali ke yang lain.

Sekali lagi, buku ini kisah kasih universal anak manusia dari sejak tidak punya apa-apa sampai menjadi Presiden Republik Indonesia dan Ibu Negara. Isinya sangat inspiratif……………….”

***
Saya menuliskan kembali pertemuan pak BJ Habibie dengan jajaran Garuda Indonesia karena banyak kisah inspiratif dari obrolan tersebut yang barangkali berguna bagi siapapun yang tidak sempat menghadiri pertemuan tsb. Sekaligus mohon maaf jika ada kekurangan penulisan disana-sini karena tulisan ini disusun berdasarkan ingatan tanpa catatan maupun rekaman apapun.

Jakarta, 12 Januari 2012

Salam,
Capt. Novianto Herupratomo

***
Cerita itu saya kutip dari notes facebook disini, sebuah renungan yang seharusnya menjadi perhatian bagi kita. Betapa menyedihkan sebuah bangsa yang tak pernah menghargai orang berilmu! Tak pernah memberi kesempatan kepada anak bangsa untuk menjadikan bangsanya mandiri! Entah ada apa dengan negara ini…! Entah dimana mata dan telinga para penguasa diletakkan!

Saya seorang peneliti, yang tahu betul bagaimana kami dilatih untuk bertindak. Bahwa kami harus melakukan segala macam upaya agar output yang dihasilkan adalah output yang QCD!

Tak sekali dua kali proposal yang sudah kami susun berhari-hari bahkan berminggu-minggu mengalami pernyempurnaan di segala sisi? Tak sekali dua kali para evaluator selalu menjadi pendamping kami dalam melaksanakan serangkaian percobaan.

Tak sedikit pikiran dan tenaga kami habis untuk bagaimana selalu menyempurnakan metode hingga output tercapai. Kami juga kadang tak berontak saat kerja bertahun-tahun tapi gaji yang kami dapat hanya setara dengan goyangan ngebor Inul satu jam! dan yang lebih menyedihkan, karya kami hanya mendapat cibiran, jika tidak akhirnya dipinggirkan!

Entah apa yang ada di benak para penguasa negeri ini! sepertinya posisi orang berilmu memang sudah tak lagi mendapat tempat, jadi siapa yang salah jika akhirnya mereka mencari tempat lain?

Dan saya perempuan, dan seorang muslimah. Maka apapun profesi saya, saya tetaplah muslimah dan perempuan. Seseorang yang mendapat kehormatan dan kemuliaan menjadi seorang Ummu warobatul bait, Istri sekaligus Ibu dan pengatur rumah tangga.

Maka jika aktivitas dan profesi yang kutekuni menjadikanku abai terhadap peranku, aku akan meninggalkannya dan memilih tempat yang lebih memuliakanku, yaitu menjadi Ibu dan pengatur rumah tangga. Bukan seorang Ibu semu, yang hanya berperan melahirkan dan memberi makan, tanpa pernah menjadi teladan, pengajar, pendengar dan teman untuk anak-anaknya…

Dan entah apa yang ada di benak para penguasa negeri ini, jika RUU Kesetaraan Gender lalu diketok palu menjadi UU!… bersiaplah menjadi orang-orang yang menggoreskan catatan sedih, dengan kebijakan negeri ini…
RENUNGAN HABIBIE  :

Kita harus pandai memproduksi barang apa saja yang dibutuhkan di pasar nasional dan memberi insentif kepada siapa saja, yang memproduksi di dalam negeri, menyediakan jam kerja dan akhirnya lapangan kerja kepada bangsa sendiri, sekali lagi kepada bangsa sendiri !

Pengalihan kekayaan alam suatu negara ke negara lain, itu kita harus bisa. Jadi setelah diolah dengan nilai tambah tinggi, produk dijual ke negara asal sehingga rakyat harus “membeli jam kerja” bangsa lain. Nah, kita harus merebut jam kerja itu menjadi jam-jam kerja kita".

Mudah-mudahan bisa meningkatkan rasa nasionalisme kita masing-masing.

Semua Hal Terbaik

Salah satu motivasi yang tidak mudah surut adalah motivasi untuk mempersembahkan yang terbaik bagi mereka yang terbaik. 
Orang tua yang telah memenuhi kebutuhan, kasih sayang dan berbagai hal yang sangat bermanfaat bagi kita. Merekalah yang terbaik. Bagi guru-guru yang dengan ikhlas memberikan ilmunya. Merekalah yang terbaik. Saudara-saudara yang sudah memberikan motivasi kepada kita. Merekalah yang terbaik. 

Sahabat yang rela meluangkan waktunya untuk mendengar keluh kesah kita. Merekalah yang terbaik. Teman- teman yang sudah mengingatkan apabila kita salah. Merekalah yang terbaik. Dan yang terbaik dari semua itu adalah Dia Yang Maha Baik. Dia yang telah memberikan segalanya bahkan tanpa kita minta. Dialah Yang Maha Baik, Allah SWT.
 
Bagi orang-orang yang sadar telah mendapatkan yang terbaik, mereka akan melakukan segala sesuatu dengan cara yang terbaik. Pena sejarah telah mencatat banyak bukti akan hal itu. Seorang sahabat yang paling dekat dengan manusia terbaik, Rasulullah SAW, Abu Bakar Ash Shidiq. Siapa yang menyangsikan baiknya amalan beliau. Di saat orang lain menjauhi dan memusuhi Rasulullah SAW, beliaulah yang membela. Disaat orang lain mendustakan perkataan Rasulullah SAW, dialah orang yang membenarkannya. Hijrah menjadi momen pembuktian keimanan beliau. Jiwa dan raganya, keluarga dan hartanya dijadikan tameng untuk melindungi rasulullah SAW. Kekokohan iman dan pemahaman yang mendalam atas firman-firman Allah SWT membuatnya yakin bahwa semua yang telah ditakdirkan kepadanya adalah yang terbaik baginya. Iapun memberikan yang terbaik untuk Allah SWT.
Kaki -kaki yang membengkak menjadi saksi bagaimana kualitas shalat beliau. Angin yang berhembus tiada sebanding dengan cepat dan mudahnya Rasulullah SAW dalam bersedekah. Ialah manusia terbaik yang telah memberikan berjuta teladan kepada kita bagaimana melakukan amal-amal dengan kualitas terbaik. Ialah manusia terbaik yang menjadi contoh terbaik bagaimana melakukan semua yang terbaik demi Dia Yang Maha Baik. Maha Baiknya Allah SWT sehingga amal-amal yang kita lakukan tidak hanya di balas di akhirat tetapi Dia percepat juga di dunia. 

Orang -orang shalih yang telah melakukan amal terbaiknya telah di berikan balasan terbaik di dunia. Tidak ada satupun anak manusia berbuat yang terbaik kepada kedua orangtuanya sengsara, yang ada damai dan penuh kelimpahan. Tidak pernah ada orang yang bersedekah menjadi miskin, bahkan Allah menggantinya dengan yang lebih baik.  Itu adalah karena Maha Baiknya Allah SWT.
“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan, sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui” (QS. Ali Imran: 92)

Jika kehidupan kita saat ini belum baik mungkin kita belum melakukan hal-hal terbaik.  Kehidupan yang terbaik adalah bagi manusia-manusia terbaik. Balasan terbaik adalah bagi orang-orang yang melakukan amalan terbaik. Terbaik dari segi kualitas maupun terbaik secara kuantitas. Terbaik niat maupun perbuatannya.
Apakah ada manusia yang tidak ingin di akhiratnya nanti dapat melihat wajah Allah tersenyum kepada kita. Surga adalah damban setiap manusia, namun melihat wajah-Nya tersenyum adalah kenikmatan yang lebih tinggi dibandingkan surga.
Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang paling baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS.t Al Mulk: Ayat 2)

Mulailah dari sekarang sahabat, masih banyak waktu buat berbenah, mulai dari yang terdekat, bertahap, dan mudah-mudahan kita bisa meraih kedamaian dalam setiap hal yang kita kerjakan.

Thursday, January 16, 2014

Asal Muasal Nama Sumatera (Waaawww)

Asal Muasal Nama Sumatera....!!!| http://indonesiatanahairku-indonesia.blogspot.com/
Sedikit info dari temen saya, mungkin sudah banyak yang tau sebelumnya, tapi tak apa buat penyegaran aja ya barangkali lupa-lupa ingat dengan postingan ini,

Nama asli Pulau Sumatera, sebagaimana tercatat dalam sumber-sumber sejarah dan cerita-cerita rakyat, adalah “Pulau Emas”. 

Istilah pulau ameh kita jumpai dalam cerita Cindur Mata dari Minangkabau. 

Dalam cerita rakyat Lampung tercantum nama tanoh mas untuk menyebut pulau mereka yang besar itu. 

Pendeta I-tsing (634-713) dari Cina, yang bertahun-tahun menetap di Sriwijaya (Palembang sekarang) pada abad ke-7, menyebut pulau Sumatera dengan nama chin-chou yang berarti “negeri emas”.

Dalam berbagai prasasti, pulau Sumatera disebut dengan nama Sansekerta: Suwarnadwipa (”pulau emas”) atau Suwarnabhumi (”tanah emas”). 

Nama-nama ini sudah dipakai dalam naskah-naskah India sebelum Masehi. Naskah Buddha yang termasuk paling tua, Kitab Jataka, menceritakan pelaut-pelaut India menyeberangi Teluk Benggala ke Suwarnabhumi. Dalam cerita Ramayana dikisahkan pencarian Dewi Sinta, istri Rama yang diculik Ravana, sampai ke Suwarnadwipa.

Para musafir Arab menyebut pulau Sumatera dengan nama Serendib (tepatnya: Suwarandib), transliterasi dari nama Suwarnadwipa. Abu Raihan Al-Biruni, ahli geografi Persia yang mengunjungi Sriwijaya tahun 1030, mengatakan bahwa negeri Sriwijaya terletak di pulau Suwarandib. Cuma entah kenapa, ada juga orang yang mengidentifikasi Serendib dengan Srilanka, yang tidak pernah disebut Suwarnadwipa!

Di kalangan bangsa Yunani purba, Pulau Sumatera sudah dikenal dengan nama Taprobana. Nama Taprobana Insula telah dipakai oleh Klaudios Ptolemaios, ahli geografi Yunani abad kedua Masehi, tepatnya tahun 165, ketika dia menguraikan daerah Asia Tenggara dalam karyanya Geographike Hyphegesis. 

Ptolemaios menulis bahwa di pulau Taprobana terdapat negeri Barousai. Mungkin sekali negeri yang dimaksudkan adalah Barus di pantai barat Sumatera, yang terkenal sejak zaman purba sebagai penghasil kapur barus.

Naskah Yunani tahun 70, Periplous tes Erythras Thalasses, mengungkapkan bahwa Taprobana juga dijuluki chryse nesos, yang artinya ‘pulau emas’. Sejak zaman purba para pedagang dari daerah sekitar Laut Tengah sudah mendatangi tanah air kita, terutama Sumatera. 

Di samping mencari emas, mereka mencari kemenyan (Styrax sumatrana) dan kapur barus (Dryobalanops aromatica) yang saat itu hanya ada di Sumatera. Sebaliknya, para pedagang Nusantara pun sudah menjajakan komoditi mereka sampai ke Asia Barat dan Afrika Timur, sebagaimana tercantum pada naskah Historia Naturalis karya Plini abad pertama Masehi.

Dalam kitab umat Yahudi, Melakim (Raja-raja), fasal 9, diterangkan bahwa Nabi Sulaiman a.s. raja Israil menerima 420 talenta emas dari Hiram, raja Tirus yang menjadi bawahan beliau. Emas itu didapatkan dari negeri Ophir. Kitab Al-Qur’an, Surat Al-Anbiya’ 81, menerangkan bahwa kapal-kapal Nabi Sulaiman a.s. berlayar ke “tanah yang Kami berkati atasnya” (al-ardha l-lati barak-Na fiha).

Di manakah gerangan letak negeri Ophir yang diberkati Allah itu? Banyak ahli sejarah yang berpendapat bahwa negeri Ophir itu terletak di Sumatera! Perlu dicatat, kota Tirus merupakan pusat pemasaran barang-barang dari Timur Jauh. Ptolemaios pun menulis Geographike Hyphegesis berdasarkan informasi dari seorang pedagang Tirus yang bernama Marinus. Dan banyak petualang Eropa pada abad ke-15 dan ke-16 mencari emas ke Sumatera dengan anggapan bahwa di sanalah letak negeri Ophir-nya Nabi Sulaiman a.s.

Lalu dari manakah gerangan nama “Sumatera” yang kini umum digunakan baik secara nasional maupun oleh dunia internasional? Ternyata nama Sumatera berasal dari nama Samudera, kerajaan di Aceh pada abad ke-13 dan ke-14. Para musafir Eropa sejak abad ke-15 menggunakan nama kerajaan itu untuk menyebut seluruh pulau. 

Sama halnya dengan pulau Kalimantan yang pernah disebut Borneo, dari nama Brunai, daerah bagian utara pulau itu yang mula-mula didatangi orang Eropa. Demikian pula pulau Lombok tadinya bernama Selaparang, sedangkan Lombok adalah nama daerah di pantai timur pulau Selaparang yang mula-mula disinggahi pelaut Portugis. 

Memang orang Eropa seenaknya saja mengubah-ubah nama tempat. Hampir saja negara kita bernama “Hindia Timur” (East Indies), tetapi untunglah ada George Samuel Windsor Earl dan James Richardson Logan yang menciptakan istilah Indonesia.

Peralihan Samudera (nama kerajaan) menjadi Sumatera (nama pulau) menarik untuk ditelusuri. Odorico da Pardenone dalam kisah pelayarannya tahun 1318 menyebutkan bahwa dia berlayar ke timur dari Koromandel, India, selama 20 hari, lalu sampai di kerajaan Sumoltra. 

Ibnu Bathutah bercerita dalam kitab Rihlah ila l-Masyriq (Pengembaraan ke Timur) bahwa pada tahun 1345 dia singgah di kerajaan Samatrah. Pada abad berikutnya, nama negeri atau kerajaan di Aceh itu diambil alih oleh musafir-musafir lain untuk menyebutkan seluruh pulau.

Pada tahun 1490 Ibnu Majid membuat peta daerah sekitar Samudera Hindia dan di sana tertulis pulau Samatrah. Peta Ibnu Majid ini disalin oleh Roteiro tahun 1498 dan muncullah nama Camatarra. Peta buatan Amerigo Vespucci tahun 1501 mencantumkan nama Samatara, sedangkan peta Masser tahun 1506 memunculkan nama Samatra. Ruy d’Araujo tahun 1510 menyebut pulau itu Camatra, dan Alfonso Albuquerque tahun 1512 menuliskannya Camatora. Antonio Pigafetta tahun 1521 memakai nama yang agak ‘benar’: Somatra. Tetapi sangat banyak catatan musafir lain yang lebih ‘kacau’ menuliskannya: Samoterra, Samotra, Sumotra, bahkan Zamatra dan Zamatora.

Catatan-catatan orang Belanda dan Inggris, sejak Jan Huygen van Linschoten dan Sir Francis Drake abad ke-16, selalu konsisten dalam penulisan Sumatra. Bentuk inilah yang menjadi baku, dan kemudian disesuaikan dengan lidah kita : Sumatera.
Mudah-mudahan bermanfaat, sekian dan terima kasih.

Wednesday, January 1, 2014

Syukuri >>> Rasakan Kebahagiaan

Kunci kebahagiaanSiapa yang tidak ingin bahagia?
Tentu tidak ada. 

Hanya orang aneh yang tidak mau bahagia. Sayangnya, belum tentu semua orang dapat menemukan kebahagiaan. Kebahagiaan hanya bisa dirasakan oleh mereka dapat menemukan kuncinya. 

Tidak peduli apakah ia orang paling berkedudukan di dalam satu komunitas, apakah ia orang yang paling berharta, atau ia orang yang paling terkenal, kalau ia belum mampu menemukannya, sangat mungkin ia sulit mendapatkan kebahagiaan.
Kunci kebahagiaan bukan terletak dibalik banyaknya uang atau harta yang dimiliki seseorang. Meskipun, bisa saja harta menambah kebahagiaan seseorang. 

Faktanya, banyak orang yang jauh lebih kaya hartanya, tapi justru tidak lebih bahagia dari orang yang lebih sedikit hartanya. Jika harta adalah kunci kebahagiaan, maka secara matematik, orang yang semakin banyak harta akan semakin bahagia sebanyak lipatan kekayaan yang dimilikinya.
#terlalu miris jika kita anologikan demikian.
 
Kunci Kebahagiaan

Sesungguhnya kunci kebahagiaan terletak di balik rasa syukur. Tidak perduli bagaimanapun keadaan kita, jika kita mampu mensyukuri nikmat yang (pasti) ada pada diri kita masing-masing, maka kita akan melihat kebahagiaan itu datang dan berpendar di hati kita.

Karena sejatinya, jika syukur sudah tertanam dalam dihati, sebesar dan sekeras apapun cobaan, yang memicu kemunculan amarah, akan lunak dengan sebuah sujud dan tangis syukur yang telah diberikan jauh-jauh hari telah dicukupkan oleh Ar-Rahman.

Cara bersyukur

Kita sudah tahu bahwa kunci bahagia terletak di balik rasa syukur. Pertanyaannya, bagaimana caranya kita bersyukur. 

Tidak ada cara lain kecuali tetap focus pada apa yang kita miliki lalu syukuri apa yang ada sekecil apapun itu. Jangan pernah mengeluhi apa yang kita dapati. Mulainya mensyukuri setiap hal (baik kecil, apalagi besar) yang ada pada kita. 

Ini mungkin terasa berat di awalnya, tapi tidak ada cara lain kecuali mulai melakukannya sekarang juga, lalu dijadikan kebiasaan, maka pada akhirnya semakin lama ini akan semakin mudah kita lakukan. Rasa syukur dapat di wujudkan melalui aktivitas hati dan pikiran, lisan, maupun perbuatan anggota badan. 

Melalui hati dan pikiran, rasa syukur dapat di wujudkan dengan senantiasa mengingat Allah dalam setiap hal, waktu dan kondisi apapun, terlebih lagi ketika anda mendapatkan nikmat yang luar biasa. Namun sekali lagi, perlu diingat bahwa tidak akan pernah ada detik-detik yang berlalu tanpa nikmat Allah SWT. Sehingga, semakin banyak Anda mengingat Allah, semakin banyak peluang Anda meraih kebahagiaan hidup. Aktivitas hati dan pikiran inilah yang akan senantiasa menjaga manusia untuk selalu ingat kepada Allah SWT, zat yang memberikan sumber kebahagiaan bagi manusia.

Melalui aktivitas lisan, rasa syukur dapat diwujudkan berupa ucapan “Alhamdulillah” di setiap kesempatan, terutama ketika kita merasakan nikmat yang luar biasa pada diri kita. Ucapan “Alhamdulillah” pada sejatinya adalah ekspresi yang memperkuat nilai-nilai ketauhidan dan menumbuhkan sikap penghambaan yang semakin tunduk kepada Allah SWT.

Melalui ucapan ini, seorang hamba sepenuhnya mengembalikan Segala pujian, nikmat dan kebahagiaan kepada Allah SWT. Pujian apapun di seluruh alam ini adalah hanya milik Allah SWT. Dengan senantiasa membiasakan mengucapkan “Alhamdulillah” disetiap rasa syukur yang kita dapati, atas izin Allah SWT akan mendatangkan kebahagiaan bagi yang mengucapkannya. 

Melalui aktivitas tubuh atau perbuatan. Ini tentu dilakukan dalam bentuk ibadah perbuatan sebagai bentuk rasa syukur atas berbagai nikmat yang telah Allah berikan kepada kita. Dengan nikmat Islam, Allah jadikan kita mengenal sumber-sumber kebaikan, demikian pula dengan nikmat iman dan juga kesehatan. Menggunakan nikmat iman, islam, dan kesehatan untuk senantiasa beribadah kepada Allah melalui aktivitas tubuh dan perbuatan merupakan tanda ketakwaan kepada Allah SWT. Apalagi ini semua dilakukan dengan penuh kesadaran akan berbagai nikmat yang Allah berikan kepada kita. 

Allah SWT berfirman: “Jika engkau mensyukuri nikmatKu, maka akan Aku tambah nikmatKu, tapi jika engkau mengingkari, sesungguhnya azabKu amat pedih” (TQS. Ibrahim:7)

mudah-mudahan bisa bermanfaat, tak lupa ucapan terima kasih buat #mas Dede Heri Yuli Yanto